SIGMA Σ CAPITAL GROUP
Integrity - Performance - Financial Intelligence
Global Wealth Management & Financial Intelligence Education
>> Home |  Education |  Services |  Schedule |  Learning-101 |  Contact |  Sigma-Group
 
Sigma - Advisor Column
 
Jan 07
Feb 07
Mar 07
Apr 07
May 07
Jun 07
Jul 07
Aug 07
Sep 07
Oct 07
Nov 07
Dec 07
 
    Contact Sigma Financial Intelligence Training
       

 
  Market History Study
  Market Crash 2008 Analysis
Market Stock Zero
   
 

    Saat berinvestasi hampir tiba (Bear Market 2008 – 2009)

    Bagi investor yang sudah lama menunggu saham-saham berharga murah, kini saatnya hampir tiba. Bulan Oktober 2008
    merupakan bulan suram sepanjang sejarah saham sekaligus merupakan bulan yang menandakan penuh kesempatan
    bagi investor yang sabar dan memiliki extra cash. Tahun 2008 dan 2009 adalah tahun Bear Market yang
    merupakan saat baik untuk mencari saham-saham yang sudah turun lebih dari 90% diseluruh dunia, apakah itu pasar
    Amerika, Eropa, maupun Asia, banyak saham yang turun lebih dari normal.

    Seperti kita ketahui, sebagian besar investor umumnya selalu masuk saat pasar sedang up-trend dan tidak pernah
    tertarik dengan pasar yang sedang turun. Itulah sebabnya juga, mengapa saat pasar turun, hanya sedikit orang yang
    bergembira dengan berita itu, dan sebagian besar orang malah bingung memikirkan nilai investasi mereka yang berkurang
    drastis. Jika ditambah lagi dengan berita-berita negatif dari berbagai media tentang suramnya dunia finansial, maka
    kebingungan mereka berubah menjadi kepanikan masal.

    Justru saat seperti inilah yang kita tunggu sebagai investor long term untuk mulai membeli. Tentunya kita perlu belajar
    dulu dan tidak masuk dengan tiba-tiba untuk mencegah kecelakaan investasi seperti orang awam. Sebaiknya kita membeli
    saat harga benar-benar murah. Jika kita melihat sejarah pasar saham, umumnya, jika index Amerika turun 30%, maka
    saham Amerika banyak yang turun 50 – 70%, dan jika pasar Amerika turun sekitar 50% seperti tahun 2008 ini, maka
    banyak saham Blue Chip yang turun 90% lebih. Pasar Asia umumnya akan turun 1,5 kali atau 2 x lipat pasar
    Amerika. Sekarang Index Asia turun antara 60 – 70% dan mudah sekali untuk turun lebih jauh, sekitar 80 - 90%.

    Karena sejarah selalu berulang, tentunya saham Asia termasuk Indonesia akan turun seperti tahun 1998, yaitu
    lebih 90%. Saat ini banyak Blue Chip yang sudah menjadi Blue Cheap dengan turun sekitar 60% - 80%, kita tinggal
    menunggu beberapa saat lagi sampai saham Blue Chip ini turun 90%. Gunakan common sense artikel ini sebaik mungkin
    untuk investasi long term anda. Belihah saham bagus yang sedang murah, bukan membeli saham yang murahan, karena
    saham murahan beresiko tinggi.

    Ingat, jangan tertarik dengan saham yang naik atau berita bagus, hindari berita seperti itu, tunggu saja pasar turun,
    maka saham akan mengalami sale. Jika kita selama ini hanya menunggu untuk membeli saat sale di supermarket, maka
    2008-2009 kita bisa membeli saham yang super-sale. Ingatlah, setelah membeli barang sale di supermatket, uang kita
    tidak akan kembali dan barang tersebut hilang harganya, kitapun tidak bisa pensiun dengan membeli barang sale. Tapi
    jika kita membeli saham Blue Chip saat super-sale, maka kemungkinan besar kita akan mendapat profit yang bagus
    secara long term, dan bisa pensiun dini sesuai cita-cita. Sesuai statistik, banyak saham yang turun di tahun 1998 / 2001,
    dan akhirnya naik 1.000% setelah 5 – 7 tahun. Itu adalah hadiah bagi yang menunggu saham murah.

    Ingat kembali, tahun 2008 adalah tahun opportunity bagi investor, sebaiknya kita tidak ikut-ikutan bingung seperti
    investor lain, tapi justru mencari kesempatan untuk membeli saham bagus yang murah. Investasi itu mudah, tidak perlu
    canggih, gunakan strategi sederhana, bahkan tidak diperlukan komputer jika memang tidak ada.

    Untuk mendapat keterangan lebih banyak mengenai psikologis pasar, dunia saham global termasuk produk futures index,
    forex, options, cara investasi long term mulai dari small sampai large capital, cara proteksi saham anda dengan asuransi
    saham, serta cara alokasi kapital yang profesional, bisa bertanya langsung pada staff edukasi untuk mendapatkan
    dasar keahlian investasi yang benar. Hubungi 0431-3300-850 & 0852-4013-1234
 
 

    Global Economy Collapse 2009 & Opportunities

    Berakhirnya sebuah Era, dan turunnya harga Aset dunia
    Era kapitalisme di Amerika dan negara Eropa berakhir ditahun 2008 yang ditandai dengan kejatuhan hampir seluruh
    sektor financial dan sahamnya. Hal ini terjadi karena konsep mengejar profit tinggi dengan mengambil resiko terlalu besar
    tanpa didukung managemen resiko yang benar. Para krisis di-era 1930an, Amerika mengalami krisis keuangan yang
    dimulai dari “overleverage” resiko pada sektor perumahan dan pasar saham. Bank memberikan pinjaman 130%
    melebihi harga rumah dengan asumsi harganya akan terus naik. Ini menyebabkan “negative equity”, dimana aset lebih
    kecil dari nilai kreditnya. Para spekulatorpun bebas meminjam uang untuk membeli saham hingga 30 kali lipat nilai
    dasarnya.

    Saat terjadi siklus penurunan ekonomi, cicilan rumah segera menjadi macet,  harga sahampun turun sampai 99%. Terjadi
    wealth destruction yang dikenal sebagai Great Depression. Pemerintah bertindak dengan mebuat regulasi ketat yang
    dikenal dengan Glass-Steagall act, dimana peranan bank dibatasi dalam hal spekulasi pasar dan kegiatan umum komersial
    bank. Ratio total hutang Amerika terhadap GDP saat terjadi collapse 1930 adalah 300% . Diperlukan 20 tahun untuk
    menurunkan ratio hutang itu ke level 140%.

    Saat terjadi market destruction ditahun 2008, ratio hutang/GDP melebihi tahun 1930 yaitu 360%. Sudah terjadi wealth
    destruction ekonomi permanen. Saat terjadi crash di tahun 1930, diperlukan 25 tahun untuk index pasar mencapai break
    even, sedangkan untuk crash 2007-2009 ini dimana hutang jauh lebih besar dari masa lalu, tidak ada yang bisa menjamin
    apakah 30 tahun bisa memperbaikinya.

    Pada tahun 1970an, terjadi lagi krisis perumahan dan pasar saham dengan penyebab yang sama, yaitu hutang
    berlebihan (overleverage), dan solusinya adalah dengan membuat hutang yang lebih besar untuk membayar hutang
    yang terdahulu, melalui paket stimulus yang menaikan belanja pemerintah dan proses bail out kredit macet yang uangnya
    ditanggung oleh pembayar pajak. Negara mencetak uang dan menjual surat hutang sebanyak mungkin. Hal ini terlihat
    berjalan baik dan dipandang sebagai solusi, karena orang merasa senang “bisa” berhutang dan berbelanja lagi.

    Sampai pada krisis berikutnya diera 1980an dan 1990an, dimana krisis terulang lagi. Solusi pemerintah adalah membuat
    hutang yang lebih besar lagi dan berbelanja lebih banyak lagi. Krisis berikutnya terjadi ditahun 2001 dimana index SP500
    turun lagi 50%, dan Nasdaq turun hampir 80%. Tentu solusinya adalah, membuat hutang lebih besar lagi untuk
    membayar hutang sebelumnya.

    Ditahun 2008 – 2009, ratio total hutang Amerika terhadap GDP sekitar 360% saaat terjadi market collapse yang
    membuat index Amerika turun lagi 50% dan diprediksi menuju 90%. Pasar dunia seperti Rusia, India, China, Brazil,
    turun dengan proporsi sekitar 80 – 90%. Dimasa yang lalu, penurunan besar seperti ini sudah pernah terjadi, tapi
    collapse kali ini disertai dengan berhentinya aliran uang untuk melakukan kredit hutang baru. Hutang baru inilah yang
    diperlukan untuk membayar hutang lama seperti penyelesaian krisis dimasa lalu. Sudah setahun lebih, aliran kredit dunia
    berhenti, dan bisnis akhirnya ikut macet. Daya beli konsumer terhenti karena tidak adanya kredit baru. Surat hutang
    yang diterbitkan pemerintah Amerika sekarang mencapai 11 Trilyun dollar untuk membiayai belanja, bail out, trade
    defisit, dan stimulus lainnya.

    Penerbitan surat hutang ini mengundang banyak pembeli dollar jangka pendek karena Amerika dianggap memiliki rating
    keamanan hutang tertinggi. Penarikan dollar juga disebabkan oleh redemption para investor di Amerika. Kedua hal ini
    menyebabkan menyusutnya stock dollar di negara lain seperti Asia dan Indonesia karena tersedot oleh Amerika. Hal
    tersebut berkontribusi pada koreksi mata uang Asia dan Indonesia. Tapi tentunya, karena Amerika terus mencetak uang,
    maka konsekuensi berikutnya adalah hyperinflation yang disebabkan jumlah uang beredar terlalu banyak, dan akan
    terjadi penurunan nilai mata uang dollar dijangka panjang. Ini akan menyebabkan krisis gelombang berikutnya bagi
    dunia. Sebab itulah, 20-30 tahun mungkin tidak cukup untuk mengatasi gelombang krisis kali ini.

    Disaat negara lain menurunkan bunga menjadi nol, Indonesia terpaksa menaikan bunga untuk menarik investor membeli
    rupiah dan melepas dolar, tapi kebijakan ini tidak berhasil dan rupiah mengalami depresiasi 30% dari 9.000 menjadi
    12.000, dan kehilangan 50% terhadap Yen. Investor memilih membeli Dolar dan Yen dibandingkan mata uang beresiko.
    Hampir semua negara berkembang seperti Filipina dan Indonesia, asetnya dikategorikan tidak layak investasi dan hampir
    default karena adanya systemic risk dan currency risk yang besar.

    Kini semua negara di dunia, berusaha menggerakan ekonominya yang macet. Mereka memberikan paket stimulus ekonomi
    dan memberikan bantuan likuiditas kepada bank dengan harapan bisa membangkitkan daya beli, tetapi bank tidak bisa
    memberikan kredit baru karena uangnya dipakai sebagai dana siaga, dan terbatasnya jumlah kreditor yang memiliki track
    record baik ikut menghentikan kegiatan pinjaman bank.

    Bantuan likuiditas adalah solusi jangka pendek, dan memperbesar hutang negara. Saat ini, hampir semua bank terbesar
    dunia sudah gagal secara tehnis karena menumpuknya kredit macet dan hanya bertahan karena disupport oleh
    pemerintah. Hasil akhirnya adalah kegagalan ekonomi masal. Di Amerika, pemutusan kerja per-bulannya berkisar
    500.000 orang. Para ekonom melihat ada 50-60 juta total pemutusan kerja diseluruh dunia pada tahun 2009 ini.

    Kesempatan baik bagi investor dan cara menghadapi krisis:
    Dengan terjadinya collapse financial yang mungkin akan berlangsung 10-20 tahun kedepan, terjadilah proses
    deleveraging atau penurunan harga aset.. Bagi mereka yang berdisiplin tanpa hutang dan memiliki tabungan, akan
    berada dalam posisi diuntungkan, karena banyaknya aset rumah dan saham yang bisa dibeli dengan harga
    sangat rendah. Contoh kesempatan bagi investor, harga properti Amerika sudah turun  sekitar 40%, diperkirakan
    akan turun sampai 75%. Di Indonesia sendiri, mengambil contoh dari tahun 1998 – 2001, harga rumah turun sampai
    75%. Tentu penurunan harga rumah akan terjadi lagi pada krisis ini.

    Untuk melakukan diversifikasi resiko mata uang, sebaiknya investor membeli beberapa mata uang untuk membagi resiko.
    Misalnya US Dollar + Yen, Euro, Aussie Dollar, Swiss Franc, Canadian Dollar, atau Sing Dollar. Gunakan cukup 3 jenis
    mata uang yang bisa saling kompensasi pergerakan USD. Untuk membatasi resiko saham, gunakan options atau futures.
    Selain itu, Options bisa menjadi alternatif extra income bagi investor berkapital kecil.

    Bagi “long term investor”, tahun 2009 dan seterusnya, memberikan kesempatan sangat baik, yang hanya didapat 100
    tahun sekali. Investor punya banyak waktu untuk membeli aset murah di Amerika, Eropa, dan Asia. Investor sebaiknya
    menggunakan ETF (basket saham) dibandingkan membeli saham individual yang bisa beresiko menjadi nol pada masa
    krisis. Jika ingin membeli rumah di Amerika, cukup menggunakan ETF perumahan - IYR, yang saat ini sudah turun
    75%.

    Untuk berinvestasi diglobal market, saat ini index Rusia - RSX, India - IFN, China - FXI & PGJ, dan Brazil - EWZ,
    sudah turun dengan kisaran 80 – 90%. Investor bisa membeli secara “bertahap” menggunakan - maximum 5%
    per entry - dari kapital saat harganya mengalami koreksi. Untuk index Amerika seperti SP500 – SPY dan DowJones30 –
    DIA, saat ini baru terkoreksi 50%, diharapkan untuk turun 75 – 90% seperti tahun 1930 jika kebijakan ekonomi yang
    sekarang gagal. Index ETF Jepang – EWJ dan Hongkong – EWH masih diharapkan turun lebih besar lagi, dan pasar
    Indonesia diharapkan akan turun dibawah level 1.000. Sebaiknya investor bersabar beberapa saat sebelum membeli,
    karena blue chip bisa turun 90% lebih seperti tahun 1998.

    Investasi pertama kali yang perlu dimiliki investor adalah “pengetahuan” bagaimana cara
    “berinvestasi long term” dengan benar. Banyaknya kecelakaan investasi dalam jumlah besar, dikarenakan 97%
    dari mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dan hanya bermodalkan “uang dan keberanian”. Bagi mereka,
    pasar dianggap arena judi jangka pendek, bukan tempat investasi. Jika menang, menganggap diri beruntung, jika kalah,
    maka pasarlah yang pasti salah. Investasi sebaiknya dimulai dulu dari pendidikan dilanjutkan dengan kapital kecil secara
    bertahap.

    Sedikitnya jumlah investor yang berhasil di dunia, karena memang sedikit orang yang mau belajar, dan lebih sedikit lagi
    yang mau “bersabar” menunggu koreksi pasar. Saat crash seperti sekarang, banyak orang kehilangan uang, dan
    hanya sedikit orang yang membeli saham murah seperti investor Warren Buffett. Fenomena ini selalu terulang, dimana
    orang hanya membeli saat naik, dan diam belasan tahun saat pasar turun. Jika anda, seorang investor yang memiliki
    pengetahuan, tahun 2009 dan seterusnya, merupakan kesempatan terbaik yang pernah ada.

    Jika anda ingin belajar Financial Intelligence tentang cara berinvestasi long term (mulai dari kapital kecil sampai besar),
    hubungi 0431-3300-850 / 0852-4013-1234
 
 

    Financial Market Disaster 2008

    Tahun 2008 diawali dengan keruntuhan finansial yang dimulai dari Amerika Serikat sebagai penggerak ekonomi dunia
    yang utama. Kali ini berbedar dengan krisis finansial ditahun 1997, 1998 dan technology stock bubble 2001. Jika pada
    tahun 1998 krisis berawal dari asia, dan impact-nya hanya terasa di kawasan asia, maka tahun 2008 ini krisisnya berasal
    dari motor ekonomi utamanya, yaitu Amerika Serikat.

    Full impact dari keruntuhan sistim finansial Amerika sudah berimbas ke negara maju di eropa dan Jepang. Sedangkan
    dampaknya terhadap Asia dan Indonesia tinggal menunggu waktu. Sekarang sudah mulai terasa. Banyak yang
    mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara Asia dan Amerika (economic decoupling), tapi dalam kenyataannya,
    hampir semua negara masih tetap bergantung pada pertumbuhan Amerika dan saling terikat dalam sistem finansialnya.

    Kali ini kita akan membahas singkat, mengapa bisa terjadi kejatuhan dalam sistem finansial Amerika, yang menurut para
    analis adalah sebuah kejatuhan yang sangat besar melebihi masa depresi tahun 1930. Dimana bank, asuransi, dan
    institusi loan property terbesar Amerika mengalami kebangkrutan, seperti Lehman Brothers, Bear Stern, Merill Lynch,
    Washington Mutual, Freddie Mac, Fannie Mae, dan dua investment bank besar terakhir, Goldman Sach serta Morgan
    Stanley sedang menuju nasib yang sama jika tidak segera mencari solusi.  Semua ini bermula dari kebiasaan yang
    dilakukan sejak lama, yaitu over leverage (hutang berlebihan + tidak cukup menabung), Greed (keserakahan), &
    terlalu bergantung pada perhitungan komplex (melupakan common sense).


    1. Leverage yang berlebihan dan tidak cukup menabung adalah sumber utama kecelakaan finansial bagi bank besar
    maupun individu di Amerika. Leverage berlebihan ini sebelumnya juga telah membangkrutkan LTCM yang dibangun oleh
    profesor ekonomi pemenang nobel. Saat itu LCTM adalah kasus terbesar dalam sejarah dimana dengan uang 4 milyar
    dan melakukan leverage sebesar 129 milyar dan asset yang dikuasai melebihi 1 trilyun dollar, dan pada akhirnya
    collapse saat terjadi market downturn. Ditahun 2008, rekor itu terpecahkan kembali oleh Lehman Brothers. Total dana
    back up yang rencananya disediakan oleh Amerika adalah sekitar 700 milyar dollar. Dana ini diharapkan bisa
    menenangkan sementara dampak kesulitan likuiditas.
    Hampir semua kebangkrutan berasal dari kredit rumah yang macet, dimana banyak pembeli rumah yang tidak sanggup
    membayar karena memang tidak punya kemampuan serta data penghasilan disamarkan demi mendapat kredit.

    Pada level personal, masyarakat Amerika-pun terbiasa berhutang Kartu Kredit, yang pada akhirnya menyulitkan diri
    sendiri dengan saving yang minus. Saat krisis terjadi, tidak ada uang yang tersedia.

    2. Keserakahan (Greed) merupakan penyebab mengapa orang melakukan over leveraging dengan harapan bisa
    mendapat untung besar. Analoginya adalah, dengan uang 100$, ingin membeli Asset yang berharga 10.000$ dan
    berharap Asset langsung naik ke 20.000$ sesaat setelah dibeli dan berharap untung 9.000$ dengan uang 100$. Saat
    nilai Asset tersebut turun 200$ saja, maka uang 100$ tersebut langsung hilang. Hal ini dilakukan oleh bank besar maupun
    level personal, dimana penggunaan margin (leverage) sangat besar tanpa memikirkan resikonya. Sebagai investor, kita
    perlu menyiapkan full margin dan berhutang sesedikit mungkin (atau nol) dan mengetahui resiko yang terjadi saat pasar
    turun.

    3. Terlalu Bergantung pada perhitungan komplex. Bank besar serta para fund manager yang ber-intelektual
    tinggi sangat mengandalkan perhitungan matematis, matrix, dan statistik komplex dalam melakukan investasinya, dengan
    harapan perhitungan tersebut bisa meningkatkan profit jangka pendek. Umumnya short term trader melupakan view long
    term, dan melakukan over trading serta over leveraging dengan harapan perhitungan matematisnya benar. Saat pasar
    ternyata tidak bergerak sesuai perhitungannya, maka terjadi collapse.

    Common sense (akal sehat) diperlukan dalam investasi. Belum ada metode lain yang lebih efektif dari : Buy
    Low and Sell High. Problem utama adalah, orang tidak sabar menunggu harga turun menjadi murah. Mayoritas ingin
    segera masuk saat ini juga. Jika investor mau menunggu siklus, maka tiap 4 - 7 tahun, terjadi market crash yang besar,
    dimana harga saham bisa turun 99,99%. Saat itulah bagi pemegang cash untuk melakukan pembelian murah. Bahkan
    saham murah tersebutpun masih ditolak oleh para investor panik yang sedang kehilangan percaya diri.

    Dalam hal hilangnya common sense pada mortgage crisis, bank berasumsi mereka akan mendapat keuntungan besar, tapi
    melupakan (mengecilkan) resiko bahwa profit tidak mungkin didapat dari asset / orang yang tidak membayar apapun.
    Pada perhitungan buku, nilai property tinggi, asumsi cicilan lancar, dan pada akhirnya walaupun nilai tinggi, ternyata
    tidak bisa terjual, ditambah berhentinya cicilan karena krisis. Maka semua hitungan dan valuasi angka dibuku mereka
    tidak berlaku.

    Dalam investasi, tidak ada ilmu pasti.
    Kenyataan yang pasti terjadi adalah: Orang sabar menunggu selalu menang daripada orang pintar.
    Sejarah selalu membuktikan demikian.
    Maka bersabarlah, dan harga Asset murah akan datang kedepan pintu anda dengan sendirinya. Tahun 2008 dan 2009,
    adalah saat itu terjadi. Selamat berinvestasi, dapatkan harga serendah mungkin yang tidak didapatkan orang lain
    sebelumnya. Itu adalah hadiah menunggu.
 
 

    Rubik Investasi Manado Post 6-September-2007

    Pendidikan investasi minggu ini
    Bagi semua investor, pemula & advanced investor, ingat options asuransi investasi yang pernah dibahas pada edisi lalu.
    Pembahasan kali ini, kita perlu ingat beberapa hal penting untuk keamanan investasi jangka panjang, *Bahwa tidak
    ada yang namanya FIXED income dari investasi apapun* apalagi tanpa resiko. Kecuali deposito & jenis obligasi
    negara & perusahaan – tapi itupun masih mengandung resiko deposito default jika banknya bermasalah kredit macet
    atau obligasi terkena systemic risk jika negara mengalami kejadian seperti tahun 1997 walaupun total resiko lebih kecil
    daripada investasi jenis lain. Jika ingin zero risk, gunakan saja “strategy collar” (options + instrument), hasilnya kecil tapi
    umumnya lebih besar dari bunga bank, hanya saja kita perlu belajar kecerdasan financial sebelum menggunakannya.

    Jadi jika kita ditawarkan “investasi berbuah fixed income” + jaminan, kita semestinya sudah tahu
    bahwa ivestasi jenis itu sebenarnya tidak ada. Umumnya produk ini bersifat money game / MLM uang /
    skema piramida / skema ponsi / arisan berantai yang “diperhalus dengan cerita indah investasi”, atau
    menggunakan cerita garansi bank luar negeri, ataupun dikelola oleh fund manager terkenal tapi kita sendiri tidak kenal
    orangnya.

    Ini adalah skema umum & sayangnya korban setianya adalah orang daerah yang memang kurang paham arti investasi.
    Padahal jenis skema ini artinya mereka saling mengambil uang dari nasabah berikutnya di bawah mereka. Sebaiknya
    bijaksana, kita cek kembali bank luar negeri / fund manager yang disebut mereka, mungkin anda perlu beberapa ratus
    ribu rupiah melakukan telpon, tapi bisa menyelamatkan jutaan atau milyaran uang anda sendiri. Ingat, cerita indah
    investasi fixed income bisa dibuat siapa saja, tapi hanya anda sendiri yang bisa re-check kebenarannya.

    Lakukan perkerjaan rumah anda secara bijaksana dengan melakukan re-check, tapi bukan dengan mencari pembenaran
    diri sendiri karena sudah terlanjur menyetor uang seperti yang dilakukan banyak orang awam. Ingat, hanya kita
    sendiri yang bertanggung jawab terhadap uang kita sendiri, bukan orang lain, bukan bank, bukan fund
    manager, bukan juga bank garansi, tapi diri kita sendiri. Maka pesan dari team kami, “Bijaksanalah dengan investasi
    kita sendiri”.
> Read: Risk Disclosure